Monday, 6 July 2015

ASMARA GUNUNG MERAPI (13. He Love Me Not?)

Sudahlah, pergilah kau! Jangan pernah kembali dan jangan pernah menemuiku lagi. Bagiku, cinta di dunia yang tidak aku mengerti ini, semu adanya. Buktinya, disaat aku akan membuka pintu hatiku, tetiba saja, hatiku dihancurkan sehancur-hancurnya. Dan dia, Rondi. Dan aku, apakah aku harus menangis sehari semalam? Atau sampai habis air mataku? Tidak!

It's not my style!

Tuh, sudah aku HITAMKAN dan aku beri GARIS MIRING.

Saatnya aku move on! Aku tengok jam sudah menunjukkan pukul tiga sore. Hahaha, lumayan lama juga aku mendekam dalam kamar ini.

Saatnya Fun Time.

Tapi mau ngapain?

Sudahlah, mending aku tidur lagi.

Tingtong...tingtong...

Lineku berbunyi. Dan aku lihat dengan cepat, siapa gerangan yang mengirimkan pesan kepadaku.

Buka pintu! Saatnya kita hang out! Segera!

Laded? Akh, dia ngapain sih? Aku lagi tidak mau bertemu siapa-siapa saat ini.

Dorrr....gedorrrr...dorrrr

Mungkin begitu bunyi pintu kamarku saat ini ketika digedor oleh Laded. Akhh, bikin frustasi saja. Telponnya juga masuk, aku segera angkat.

"Hallo!" Teriakku keras-keras,

"Biasa aja kali, Ben!" Terdengar suara Laded sewot, "Cepat buka pintu! Gue mau ngajak lu jalan! Cepat berbenah, gue tunggu di ruang tamu! Lima menit!"

Klik

Gila, aku tidak diberi kesempatan untuk berbicara. Dengan malas, aku memgenakan celana pendek dan baju kaos oblong. Simpel dan tidak ribet. Ku pandangi wujudku di cermin. Hmm, masih cakep kok! Cuma mataku rada merah, akibat menangis bombay seharian tadi. Cemen ya?

Aku buka pintu dan dengan malas menuju ruang tamu. Dan aku melihat Laded sedang berdiri memandangku.

Matanya menjelajahi wujudku mulai dari ujung rambut sampai ke ujung kepala.

"Kenapa melihat gue seperti itu? Gue jadi grogi nih" Aku malu-malu dan menundukkan kepala.

"Ckckck, kita itu mau kencan! Masa' kamu dandannya cuma seperti ini? Buruan yang gantengan dikit!" Dia mendoron tubuhku kembali ke kamar.

"Gue lagi malas nih, Ded! Lagi ga' pengen kemana-mana. Lu cari pria lain aja ya?"

"Jangan banyak bacot! Sekarang lu duduk aja dulu di ranjang, biar gue pilihin baju yang pas buat lu!" Laded kembali mendorong tubuhku. Dan aku menghempaskan badanku telungkup di atas kasur.

Tak ku pedulikan apa yang dilakukan Laded. Ku dengar bunyi pintu lemari pakaian dibuka. Bunyi krasak krusuk mendominasi ruangan kamarku.

"Baju lu jelek-jelek semua! Norak!" Terdengar omelan Laded.

"Makanya gue malas ganti baju. Baju gue sudah tidak ada yang baru. Lagian selama ini gue kebanyakan di rumah, ke kampus juga ga' ada teman. Yach, buat apa kan orang kuper seperti gue banyak baju?"

"Curhat lu? Udah, simpan dalam hati saja. Gue ga' peduli apa lu kuper, gaptek atau manusia purba sekalipun! Ya sudahlah, ga' usah ganti baju. Pakai yang sekarang aja dah!"

Aku tersenyum sinis. Di dalam hati merasa jengkel juga. Buang-buang waktu saja.

"Emang kita mau kemana sih?" Kataku begitu berada di dalam mobilnya.

"Kamu maunya kemana?" Laded malah membalikkan pertanyaan.

"Ke neraka aja yuk!" Jawabku asal dan membuat Laded melotot.

"Jangan aneh-aneh. Kata orang pintar, setiap kata itu adalah doa! Apa lu yakin mau masuk neraka? Kalau iya, dengan senang hati gur anterin!" Laded menyeringai dengan ekspresi mengerikan.

Aku tidak menanggapi kata-katanya. Bayangan Rondi masih saja menyiksa batinku.

"Kenapa gue perhatikan dari tadi lu kurang semangat gitu  Ben? Ada masalah?" Laded memegang tanganku. Ku pejamkan mataku. Bayangan Rondi menghantam pikiranku dengan hebat. Kepalaku tiba saja berdenyut hebat.

"Ded, lu bisa bantu gue ga'?" Aku berdebar-debar.

"Apapun, asal masuk logika dan bisa dilakukan!"

"FUCK ME!"

"Apa?" Kudengar Laded terkejut. Tangannya yang tadi memegang tanganku langsung dia singkirkan.

"Gue mau lu bercinta dengn gue! Sekarang!" Gue masih memejamkan mata. Tidak sanggup aku melihat ekspresi Laded saat ini.

"Lu serius, Ben?" Getaran di nada suara Laded terdengar jelas. Ada yang tercekat di tenggorokannya.

"Iya! Gue serius! Dan gue sudah lama mengharapkan lu mau memberikan dosa termanis di dalam hidup gue, Ded!"

Laded terdiam. Ku buka mataku. Dengan perlahan aku menoleh memandangnya. Laded terlihat pucat dan gugup sekali.

"Kenapa? Lu takut?" Aku menantang matanya.

"Buk... bukan... gue... hanya belum pernah, Ben!" Jawabnya sambil menghembuskan nafas. Wajahnya memerah.

"Gue juga belum pernah, Ded! Makanya, dari pada ga' ada kegiatan, kan lebih baik.kita mencoba sesuatu yang baru!" Aku berusaha memberikan alasan.

"Tapi...kita mesti...melakukannya dimana?"

Aku tertawa geli melihatnya yang semakin cemas. Gugup sekali si Laded ini.

"Sewa hotel saja!"

"Hmm... baik. Kita pilih kamar VIP saja. Lebih... nyaman!"

Kerongkongan Laded bergerak. Sepertinya tenggorokannya tiba-tiba sahaja menjadi kering. Hihihi, jadi penasaran, apa kira-kira yang akan terjadi di dalam hotel nanti.

I can't wait for so long!!!

Bersambung...